I s m a w

Let me tell you a story…

Memaafkan

Diarsipkan di bawah: curhat — eMina at 4:45 pm on Rabu, September 23, 2009

Meminta maaf dan memberi maaf memang tidak hanya dilakukan saat lebaran. Bagi saya, momen ini adalah refleksi dari keyakinan bahwa kita semestinya menjadi lebih baik sesudah pembelajaran Ramadhan. Menjadi lebih baik dalam segala hal; termasuk dalam hubungan sosial sesama manusia. Benturan -benturan kita dengan sesama manusia, dengan perbedaan karakter yang tidak memungkinkan tidak ada masalah sama sekali, membuat kita belajar untuk lebih peka. Mengharapkan maaf untuk segala benturan itu dan memaafkan/ menerima kesalahan orang lain pada kita. Dan bahwa kesalahan itu bisa disembuhkan, hingga tidak membuat kita berpecah belah.

Tapi, bagi saya, saat ini, yang terpenting adalah bisakah saya memaafkan diri saya sendiri? Jika saya belum bisa memaafkan diri sendiri, bagaimana bisa memaafkan dan menerima orang lain? Melepaskan hal -hal yang menyakitkan pada masa yang sudah lewat, menatap ke depan untuk melanjutkan hidup yang berharga.

Karena kadang saya terlalu keras pada diri sendiri. Merasa diri begitu menyedihkan karena mengalami hal -hal yang menurut saya seharusnya tidak saya lakukan, lalu menyalahkan diri sendiri dengan tenggelam dalam kesedihan yang tidak jelas dan menyesatkan.

Jadi apa yang akan saya pilih? tetap terkungkung di sini atau melangkah keluar, terus menuju masa depan? Tidak ada orang yang bisa menolong -walau itu dengan kata maaf, karena saya sendirilah yang bisa memaafkan diri sendiri dan mengubahnya.

Ucapkan selamat datang pada jiwa yang baru. Yang telah dicelup dengan segala kesedihan, rasa sakit, dendan, dosa, dan penyesalan. Hingga sebuah sinar datang mengisi kekosongan sang jiwa.

Ingat apa yang kau tulis ini, wahai isma.

Maka ucapkan ‘Aku sangat sedih dan menderita karena perasaan ini. Begitu lamanya rasa sakit dan bersalah mengoyak jiwaku. Beban ini begitu berat kurasakan. Tetapi aku tahu bahwa ini bisa menjadikanku lebih kuat. Nothing wrong with that. Ini penting, karena aku masih ingin melanjutkan hidup. Aku ingin terus berjalan ke depan dan melepaskan hal -hal yang begitu menyakitkan. Karena itulah pada hari ini, aku menyatakan bahwa aku sudah memaafkan diriku sendiri…”

(terinspirasi dari The 7 Laws of Happines karya Arvan Pradiansyah)

Jauh

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — eMina at 2:28 pm on Minggu, September 6, 2009

Jauh kita.

masih jauh kita.

walaupun masih ada di hati, dan kucoba lepaskan lagi.

maaf ku katakan bahwa engkau sudah tamat, kawan.

Lelaki dan PSK

Diarsipkan di bawah: Opini — eMina at 5:34 pm on Senin, Agustus 17, 2009

Beberapa tahun silam –kalau tak salah waktu saya masih SMP, saya nonton sebuah film asia berjudul “The Four Seasons” (barangkali ada yang tahu juga?). Kisahnya tentang realitas kehidupan di daerah asia (di China kalau tidak salah, saya sudah agak lupa) pasca Perang Dunia I.

The Four Seasons mengisahkan empat kehidupan yang berbeda, tokoh yang berbeda, tempat berbeda, tapi kurun waktu yang sama. Dua kisah lainnya saya lupa, tapi yang paling saya ingat adalah kisah tentang seorang anak kecil jalanan tukang semir sepatu yang berusaha mempertahankan hidup dalam krisis ekonomi yang parah dan kisah seorang tukang becak cina (rickshaw) yang jatuh cinta pada seorang primadona PSK.
(There is more where this came from … )

Halo dunia!

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — eMina at 7:37 pm on Minggu, Agustus 9, 2009

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!

Syair Hujan (1)

Diarsipkan di bawah: cerpen — eMina at 10:52 am on Rabu, Juli 22, 2009

Syair Hujan

(sebuah cerpen)

Ada sebuah masa dimana aku sangat membenci hujan. Aku membencinya, karena hujan bisa membuatku repot. Tetapi sekarang, aku selalu merindukan hujan.

Bila hujan mulai turun, aku diam memperhatikannya di depan jendela sambil memandang ke arah taman di depan rumah. Tanpa kusadari –di dalam hatiku, aku selalu berharap akan datangnya sesuatu melalui hujan. Tiap jutaan tetes air yang jatuh ke bumi, aku melihat tahun –tahun perjalanan kehidupanku, sebelum semua ini dimulai.

Beberapa tahun silam, pada saat hujan aku berada di taman itu. Tempat yang selalu sama, di dalam hatiku pun tetap seperti itu. hanya tumbuhan dan bunganya yang terus berganti setiap tahun. Saat hujan turun seperti saat ini, slide masa lalu seolah bermunculan dalam rangkaian airnya. Menjelma kembali menjadi kenangan yang abadi di dalam hatiku.

Di sana, dulu ada sebuah kursi kayu. Sekarang kursinya sudah diganti dengan tembok supaya lebih tahan lama. Aku duduk di kursi itu, sendirian pada awalnya. Lalu kamu pun datang menemaniku. Kita membahas apa yang kamu sebut sebagai ‘senyum yang lugu’. Dan katamu, itulah senyumku.

Kita bicara banyak hal sambil tertawa –tawa. Yah, kita masih sangat muda waktu itu. Dan kita sangat senang menceritakan banyak hal. Aku senang mendengarkan ceritamu –karena setiap mendengarkannya maka pikiranku pun mengembara. Imajinasi yang tercipta tanpa bisa kuungkapkan dengan kata –kata. Walaupun raga tak pernah bisa mencapainya, tapi melalui ceritamu aku seperti bisa melihat seluruh pelosok dunia. Aku berpikir bahwa ternyata dunia ini dipenuhi banyak hal baru. Dan, banyak dari hal baru itu amatlah indah. walaupun tidak semuanya begitu.

Pertemanan yang manis.

Ketika itu, kamu mengatakan bahwa kita akan selalu berteman. Rumah kita berdekatan, jadi kita akan tetap berteman. Kamu juga mengatakan akan menjaga taman ini untukku. Kamu sangat baik, itulah sebetulnya yang kurasakan. Kamu orang baik, tetapi aku sama sekali tidak tahu, apakah di masa depan nanti kamu akan tetap baik ?

Lalu, hujan tiba –tiba turun dengan cepat. Hujan di waktu itu, di penghabisan musim. Hujannya langsung besar. Suaranya bergemuruh menakutkan. Aku sampai tidak bisa mendengar suaramu. Sepertinya, suaramu menyatu dengan hujan, dan itu merisaukanku.

“Jangan masuk dulu. di sini saja. Kamu tak mau hujan –hujanan? Sudah lama aku tak melakukannya”katamu sewaktu aku hendak berlari ke teras rumah.

“Tidak. Aku takut tersambar petir”

“Ha-ha! Tidak akan. Tidak ada petir kan?”

kurasakan kulit telapak tanganku mulai mengkerut. Aku tak bisa menahan rasa dingin lebih lama jika air itu langsung menyiram tubuhku. “Aku bisa sakit. Kadang air hujan itu terlalu keras dan ada asamnya”

“Hujan tak akan membuatmu sakit. Coba saja rasakan airnya!”

aku tak peduli padanya. Aku berteduh di teras. Rambutku basah sekali. Sebagian bajuku juga sudah basah. Sedangkan kamu malah tertawa –tawa di bawah guyuran hujan itu.

semakin lama kulihat kamu, aku jadi ingin tertawa juga. Kamu seperti burung yang disiram air saja. Bajumu tak karu –karuan. Bibirmu memutih seperti platina, dan itu mengerikan.

“Sialan. Aku lupa menaruh bola plastikku dimana. Dulu, kalau hujan aku bermain sepakbola bersama anak –anak sini di kolam kering. Kamu tahu kolam pak RT di belakang rumahku itu kan?”kamu akhirnya berlari menghampiriku. Kamu berdiri di sampingku sambil menggigil.

“Iya. Kukira kamu sudah lupa caranya main bola itu sejak masuk kuliah di kota”

“Yah, memang. Kadang –kadang kupikir sekarang aku sudah melupakan banyak hal di sini..”kamu tertawa miris.

Begitupun aku. Memang begitulah.

Tapi sebenarnya, diam –diam aku kadang iri padamu. Kamu tahu? Karena kamu sangat cerdas dibandingkan anak –anak lain di sini. Kukira, itulah bakatmu. Saat kami masih memikirkan apakah nanti sore kami bisa bermain bola di kolam kering itu, kamu memikirkan untuk membuat lapangan bermain sendiri bagi kami. Sepertinya pikiranmu telah jauh melampaui anak –anak lain. walaupun kadang itu agak menakutkan –kamu terlalu memikirkan banyak hal. Padahal seharusnya, karena kita masih anak –anak, kita bisa bermain dengan bebas tanpa terbebani hal –hal semacam itu.

Karena kamu pandai, seandainya kamu mau –kamu bisa masuk kuliah dimanapun. Tapi aku tak pernah tahu apa yang kamu pikirkan, dan mengapa kamu memutuskan pilihan –pilihan yang tak kupahami.

Yah, aku tidak akan mengatakan bahwa aku memahamimu sebaik kamu memahami dirimu sendiri. Pada saatnya nanti, kehidupan akan berubah. Dan kamu pun juga pasti begitu. mungkin nanti, aku tidak akan mengenalmu lagi.

Lalu, yang kuresapi adalah suara hujan. Airnya yang jatuh ke genting dan ke benda –benda lain menimbulkan berbagai macam suara. Air ini sepertinya ditumpahkan begitu saja dari langit, banyak sekali jumlahnya, dalam waktu yang bersamaan. Hingga suaranya bergemuruh menyelimuti seluruh langit.

Dan, aku merasa sangat aneh, karena suara hujan itu seakan membisikkan sesuatu di telingaku. Angin yang berdesir seperti kata –kata yang ditujukan padaku. ‘Aku –suka –padamu’, begitu bunyinya. Bisikan yang samar –samar, mengalun merdu.

Bisikan apakah yang kudengar itu? apakah aku baru saja bermimpi? Kulihat kamu masih membeku di tempatmu, seperti patung es. Apakah kamu yang menciptakan bisikan itu ?

(Bersambung)

Hujan dan Burung

Diarsipkan di bawah: campur-aduk — eMina at 1:28 pm on Senin, Juli 6, 2009

Hujan dan Burung

Hujan tak pernah memberikan janji. Ia akan terus turun untuk seluruh kehidupan. Cintanya menyebar di seluruh langit dan bumi. Kau pun bisa merasakan cintanya lewat sentuhan tiap tetes airnya.

Dan seorang burung kecil yang rapuh mengira dirinya telah jatuh cinta pada sang hujan.

Gitaris Yang Bersahaja

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — eMina at 10:19 am on Sabtu, Juni 20, 2009

Apa yang paling menyenangkan saat berhadapan dengan seorang gitaris? Bagi saya, yupe, itulah. Memperhatikan raut muka dan ekspresi -ekspresinya saat menikmati petikan jari tangannya sendiri di gitarnya. Selain tentunya, mendengarkan alunan musiknya dan ikut bernyanyi pelan -pelan.

Seolah -olah, pikirannya sudah menyatu dengan gitarnya, tidak ada lagi di dunia ini, tenggelam dalam pusaran suara yang diciptakannya sendiri. Petikan jarinya mantap, membuat getaran melodi yang sungguh lembut. Hebat.

(There is more where this came from … )

s a y a

Diarsipkan di bawah: campur-aduk, curhat — eMina at 6:57 am on Senin, Juni 8, 2009

Saat membuka –buka buku harian jadul, semasa awal –awal kuliah, saya menemukan secarik kertas yang dulu pernah digunakan sebagai media games curhat –curhatan dengan teman satu geng. Di kertas itu, teman –teman saya menuliskan persepsi mereka tentang diri saya. Bukan men-judge atau semacamnya sih, cuma sarana muhasabah diri dan masukan berharga buat Mina agar bisa introspeksi.

Mau tahu apa yang mereka tulis tentang Mina waktu itu ? Seperti inilah :

(There is more where this came from … )

J u j u r

Diarsipkan di bawah: Opini, campur-aduk — eMina at 8:09 am on Minggu, Mei 31, 2009

Words can’t bring me down Yes, words can’t bring me down So don’t you bring me down today [Beautiful. Christina Aguilerra]

Terkadang kejujuran bisa sangat menyakitkan dan menyedihkan pada awalnya. Termasuk dalam pertemanan.

Kadang kita harus jujur mengatakan apa yang kita rasakan mengenai sikap teman kita yang tidak berkenan bagi kita (dan mungkin bagi sebagian besar orang), walaupun itu pasti tidak enak baginya. Tapi, karena kita sayang padanya, kita harus mengatakan itu –dengan cara yang baik. Agar dia bisa memperbaikinya, dan kita juga memperbaiki diri kita. Jadi, ketika kita mengatakannya, otomatis itu juga berlaku buat diri kita sendiri.

(There is more where this came from … )

Sastra Klasik

Diarsipkan di bawah: Opini, campur-aduk — eMina at 4:04 am on Rabu, Mei 27, 2009

Saya senang membaca berbagai macam karya fiksi semacam roman, novel, cerpen, dan sedikit puisi serta essay. Berbagai genre. Mulai dari yang klasik sampai kontemporer, walaupun tidak semua karya fenomenal pernah saya baca.

Saya juga tidak bisa mengatakan kalau saya hanya menyukai jenis bacaan tertentu, karena biasanya saya menyukai sebuah fiksi bila sudah membaca beberapa lembar awalnya. Jika tertarik, saya baca. Jika tidak, maka saya lewatkan. Walaupun misalnya buku fenomenal semacam ayat –ayat cinta yang disukai banyak orang, tapi ternyata saya tidak menyukainya.

Pernah membaca sastra (roman atau novel) klasik?

(There is more where this came from … )

Halaman Berikutnya »